hari ini adalah hari yang bersejarah bagi PII
66 tahun yang lalu PII bangkit , bukkan lahir karena sebelumnya sudah banyak organisasi pelajar
kata bangkit memang sepadan dengan kehadiran PII sebagai wadah yang dapat diisi oleh organisasi atau individu pelajar yang saat itu terkotak islam dan umum.
saya tak hendak membahas PII dengan rangkaian sejarah, tokoh dan kiprahnya bangi bangsa ini
saya lebih tertarik membahas pelajar, kata pelajar yang digunakan.
kini nama pelajar hanya di sandang oleh organisasi, ikatan pelajar, persatuan pelajar tidak untuk pribadinya,
di sekolah sdasar sampai menengah anak yang menjadi peserta didiknya disebut murid atau siswa, bukan pelajar sedangkan di lingkungan perguruan tinggi disebut mahasiswadan tak ada sebutan mahamurid , padahal dalam bahasa lain ya sama orang yang belajar di jenjang manapun sama di sebut pelajar(jika diterjemahkan kebahasa indonesia) ,
hal yang tidak konsisten pada penggunaan bahasa di kita juga terjadi pada sebutan untuk yang memberikan pendidikan atau pengajaran dilembaga formal, untuk yang mengajar di tingkat bawah mulai dari KB (kelompok bermain) sampai SMA di sebut Guru, sedangkan untuk perguruan tinggi disebut dosen.
padahal jika kita mau jujur dan lebih terbuka seharusnya bila yang belajar di sebut siswa atau murid maka sebutan untuk yang mengajar nya adalah guru, dan yang belajarnya mahasiswa maka yang ngajar nya disebut maha guru
murid = siswa => guru
mahamurid = mahasiswa => mahaguru
ada yang bilang ga penting penggunaan bahasa yang penting isinya, apapun sebutannya yang penting proses belajar nya, untuk proses belajarnya saya setuju tapi jika aada yang mengatakan bahwa yang penting isi nya berarti penyebutan label di anggap kulit luar.
sekarang mari kita analogkan dengan makanan apapun jenisnya , maukah saudara diberi makanan yang bungkus luarnya atau kulitnya sudah rusak atau busuk jawabannya pasti sudah tau.
bangsa ini tak akan membuat kemanjuan jika meremehkan banyak hal, termasuk diantaranya kata sebutan tadi.
saya ingat betul ketika harus merumuskan anggaran organisasi sekolah tempat mengajar, untuk nama saya buat ikatan pelajar, tetapi setelah posisi kesiswaan di pegang yang lain maka ikatan pelajar itu di ganti dengan OSIS, dan yang membuat saya miris adalah alasan menggantinya bahwa dietiap sekolah harus ada orgainisasi siswa, karena dia (yang mengganti ) menganggap bahwa ikatan pelajar bukan organisasi siswa. kasihan sekali bukan hanya siswa bahkan sampai sarjana (yang mengganti kan saya) terjebak dalam makna yang tak difahami sebagai sebuah implikasi proses yang di dapat dan terjadi pada dirinya.
ada contoh sederhana lain yang kerap dianggap remeh tapi sungguh dahsyat akibatntnya
ketika di SD dalam bahasa Indonesia ,
ibu belanja kepasar
ayah bekerja di kantor
jika ada pertanyaan apa yang ibu kerjakan di pasar pasi jawaban nya belanja tidak ada jawaban variatif misal kepasar untuk berdagang, kuli atau bahkan kerja karena tugasnya di pasar.
dan jika ada pertanyaan ayah bekerja diman maka jawabannya pasti kantor, padahal kebanyakan anak dari nelayan petani pedagang.
contoh kecil tapi berimbas besar,
hari ini masyarakat indonesia sangat konsumtif karena disadari atau tidak itu berawal dari pengetahuan bahwa kepasar itu belanja.
begitu pula dengan pekerjaan , mereka para pencari kerja atau yang buruk disebut dengan pengangguran berebut kerja di kantor atau sekarang di perusahaan dalam bentuk pabrik,
mereka mengira bahwa yang disebut dengan pekerjaan adalah di kantor atau di prseroan terbatas,
bahkan ada sarjan S2 yang bertanya kepada saya, kamu mengajar atau bekerja, pertanyaan demikian menandakan bahwa mengajar bukan suatu pekerjaan .
semoga mutu serta lebel bagi para pencari dan pemberi ilmu bisa lebih di perhatikan agar akinbat yang di hasilkan pun lebih baik
BANGKIT TERUS PELAJAR ISLAM INDONESIA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar