Sekolah seperti ini*
Sejak lulus dari sekolah (Madrasah
Aliyah Negeri Cikarang) tahun 1999 saya sudah bercita-cita ingin menjadi orang
yang memiliki yayasan pendidikan .
keinginan itu adalah akibat dari sebelumnya saya sudah hampir 7 tahun terjun di dunia pendidikan
formal tingkat dasar (Madrasah Ibtidaiyah) Sekolah Dasar yang berbasis pada
nilai dan pelajaran agama islam, dan tetap memuat / memberikan pelajaran yang
sama seperti sekolah umum untuk pelajaran selain pelajaran agama, jika di
Sekolah Dasar biasanya pelajaran agama hanya ada satu yaitu Pendidikan Agama
Islam(bagi muslim), maka di Madrasah Ibtidatiah Pelajaran tersebut punya porsi
yang lebih banyak dengan nama dan waktu pelajar yang lebih banyak pula, nama pelajaran tersebut adalah Aqidah
bersatu dengan pelajaran Akhlak atau di yang biasa di sebut Aqidah Akhlaq,
kemudian ada Al-Qur’an yang digabung dengan Al-Hadits yang di sebut dengan
pelajaran Al qur’an Hadits, selain itu juga ada pelajaran Fiqih,Sejarah
Islam(walau terfokus pada kebudayaan) atau yang lebih lazim disebut SKI
(Sejarah Kebudayaan Islam) dan yang terakhir adalah yang termasuk dasar dari
pelajaran agama yaitu bahasa Arab. Walau dua pelajaran terakhir – SKI dan
bahasa Arab- baru mulai dipelajari pada kelas IV.
Keinginan saya untuk memiliki yayasan
yang bergerak bidang pendidikan semakin lama semakin berubah –bertambah-
seiring dengan perjalanan di organisasi PII (pelajar Islam Indonesia). Banyak
training dan latihan juga berbagai
kegiatan ditambah obrolan berupa diskusi kecil, hal itu dinatara penyebab
perubahan yang pada saya.
Perubahan keinginan saya setelah
itu-duduk di dunia lembaga pendidikan formal dan bergabung dalam organisasi
pelajar islam indonesia- adalah bagaimana membuat sebuah lembaga pendidikan
dengan metode yang berbeda dengan yang
ada selama ini saya ketahui dan saya rasakan.
Saya ingin membuat yang berbeda, lebih
ideal, lebih baik yang akan di terapkan
berdasarkan pengalaman yang di dapat dari pendidikan formal atau yang lebih
berharga lagi pengalaman sekolah yang tak akan pernah lulus yaitu pendidikan
dalam kehidupan.
Lembaga pendidikan yang ingin saya
wujudkan adalah sebuah sekolah yang di dalamnya memiliki beberapa ruangan atau
kalau belum ada juga cukup satu ruangan. Ruangan yang dibutuhkan harus sesuai
dan difungsikan sesuai dengan
peruntukannya, diantara ruang yang dibutuhkan antara lain kantor atau
kesekretariatan, ruangan ini sebagai pusat adminitrasi agat tercipta
keteraturan dan ketertiban dalam bidang- bidang yang berhubungan dengan program kerja para pekerja sekolah – kepala
sekolah, bidang kurikulum, kesiswaan, keuangan,hubungan masyarakat, tata usaha,
bidang sarana serta prasarana, ketenaga kerjaan sampai pada perencananan dewan
guru.
Ruang yang kedua yang dibutuhkan satu
yang sangat vital dan nadinya sebuah pendidikan yaitu perpustakaan,lembaga
pendidikan baik formal maupun nonformal hendaklah mewajibkan dirinya untuk
memiliki gudang pengetahuan yang dapat dimanfaatkan oleh semua civitas
lingkungan dalam, terlebih lagi mampu menjangkau/menarik perhatian pihak luar,
masyarakat untuk ikut belajar bersama dalam perpustakaan sekolah hal yang
demikian akan memberikan nilai tambah kelembaga,
atau masyarakat sekolah – kepala sekolah, dewan guru, murid, dan pekerja lain
disekolah—baik secara langsung maupun manfaat tidak langsung (salah satu cara
promosi). Dari perpustakaan itulah masyarakat sekolah akan berlomba-lomba untuk
mencari dari bacaan tentang sesuatu-tugas dari pembimbing, atau sekedar
pengayaan pribadi—karena buku adalah jendela dunia dan perpustakaan adalah
gudang pengetahuan tentunya.
Tempat
berikutnya yang juga penting untuk membantu peningkatan kualitas
kemampuan , pengetahuan bagi pembimbing dan peserta secara khusus dan umumnya
bagi masyarakat adalah aula, tempat ini berfungsi pusat kegiatan, latihan dan
uji dan unjuk kemampuan dalam berbagai bidang, hal ini sangat penting untuk
menempa, mengasah, membiasakan,dan menonjolkan kemampuan yang dimiliki setiap
individu murid yang berbeda.
Dan tempat yang setidaknya harus
dimiliki oleh lembaga pendidikan adalah laboratorium baik lab kelas atau lab
alam terbuka, lab kelas adalah ruang lab yang didalamnya sudah disiapkan
fasilitas dan peralatan untuk melakukan obsevasi tempat ini merupakan penunjang
dasar keberhasilan dari proses yang dilaksanakan/ kerjakan, dan jangan dianggap
remah perlunya lab lapangan luar kelas, tempat ini di sediakan atau setidaknya
sekolah memberikan fasilitas agar peserta dapat memanfaatkan alam, lingkungan
dan masyarakat sebagai tempat ,alat dan bahan observasi.
Adapun ruamg kelas
yang selama ini menjadi kendala di sebagian banyak sekolah baru atau sekolah
lama yang jumlah siswanya melebihi / tak tertampung dalam ruangan sehingga
harus menggunakan dua shif (kelas pagi dan kelas siang), dan selama ini
penggunaan dua shif ini sangat tidak efektif. Coba perhatikan dari waktu yang
diguanakan/yang tersedia untuk kelas pagi belajar 07; 15-12;15 sementara untuk siang dimulai
dari jam 12;30 – 17 ;15 jadi tidak sama antara waktu pagi dan siang(selisih 15
menit) belun jika energi yang digunakan, energi yang digunakan pada sshif dua
adalah energi sisa dari energi dari shif satu, karena biasanya guru yang
mengajar pada shif dua adalah sama atau sebelumnya bertugas di shif dua dan hal
sangat memungkinkan akan mengganggu proses pembelajaran terlebih di jam awal pelajaran
biasanya digunakan oleh guru untuk beristiharat/melepas lelah setelah menguras
energi di shif pagi. Selain hal yang diatas (waktu dan energi) tempat yang
digunakan secara bersama dengan kelas yang berbeda akan menimbulkan hal yang
kurang positif diantaranya saling mengandalkan / membebankan kepihak lain(yang
pagi ke siang dan sebaliknya) dalam menjaga dan merawat ruangan dan sebaliknya
jika terjadi kerusakan akan saling menyalahkan lempar tanggungjawab. Dan hal
tersebut dapat dihindari disekolah yang ingin bangun, karena dalam lingkungan
pendidikan ruang kelas bukan sesuatu yang harus ada, atau lebih jelas ruang
kelas adalah ruang atau tempat yang digunakan dalam proses belajar, dengan
demikian kelas tidak mesti atau bukan keharusan berbentuk ruangan yang disekat,
kelas/ruang belajar bagi kita adalah seprti yang telah dijabarkan diawal yaitu
tempat untuk proses belajar, dan itu bisa dilaksanakan dirumah, sawah, kebun,
pinggir sungai (disungainya),dan atau dimanapun, yang penting tidak menggangu
dan tidak terganggu.
Proses Kegiatan
pembelajaran yang dilaksanakan dilembaga ini mungkin berbeda dengan lembaga pendidikan ditempat
lain, sepengetahuan yang saya rasakan
selama belajar dan mengajar biasanya biasanya para peserta didik(murid ) masuk kelas sesuai dengan jadwal yang telah
ditentukan dan seorang guru akan masuk memberikan keterangan, penjelasan dan
tugas yang kesemuanya harus sesuai dengan ketentuan kurikulum(baik murni dari
dinas atau modifikasi oleh sekolah tersebut).
Proses pembelajaran
yang akan diterapkan dilembaga ini adalah:
Pertama para dewan guru harus
membuat pokok bahasan yang harus / akan di pelajari oleh peserta didik/murid
dalam hal ini materi yang akan diujikan dengan keterangan waktu belajar serta
target yang harus dicapai. Contoh pada bidang stadi matematika peserta didik
harus mampu perkalian ratusan dalam waktu 3 bulan dan pembagian ratusan dalam
tempo satu semester, atau yang lebih dikenal dan biasa disebut mulai dari
program jangka panjang (tahun) progran semester, rencan pembelajaran,
selain rencana itu di buat secara matang
juga di aflikasikan dalam proses pembelajaran.
Jika bahan pokok
bahasan telah dibuat dibagikan pada setiap peserta, sekarang tinggal terserah peserta
menyelesaikannya di bulan pertama , kedua atau ketiga karena guru akan
mengujinya di bulan ketiga, sedangkan untuk pembagian juga demikian apakah akan
diselesaikan pada bulan pertama keempat atau bahkan bulan keenam yang jelas itu
akan diujikan pada akhir semester. Para peserta didik di beri kebebasan untuk
belajar dimana saja yang jelas pihak sekolah menyiapkan guru guru
(matematika)nya sebagai pembimbing bila ada yang bertanya, konsultasi dalam
menghadapi pelajaran (matematika) tersebut dan selain itu seorang guru bertugas
sebagai penguji lokal dilembaga pendidikan tersebut pada bidang stadi
(matematika). Dengan cara seperti ini para peserta akan memilih bidang
prioritas dan penyesuaian dengan kemampuan yang dimilikinya.
*ini ditulis pada juni 2008 hasil dari sebuah
perenungan akibah kegundahan hati
melihat fenomena (lembaga)pendidikan saat itu, yang mungkin saat in (april
2012) keadaan sudah berubah dalam beberapa hal.