Rabu, 06 Juni 2012

sekolah apa ya


Sekolah seperti ini*
Sejak lulus dari sekolah (Madrasah Aliyah Negeri Cikarang) tahun 1999 saya sudah bercita-cita ingin menjadi orang yang memiliki yayasan pendidikan .  keinginan itu adalah akibat dari sebelumnya saya sudah  hampir 7 tahun terjun di dunia pendidikan formal tingkat dasar (Madrasah Ibtidaiyah) Sekolah Dasar yang berbasis pada nilai dan pelajaran agama islam, dan tetap memuat / memberikan pelajaran yang sama seperti sekolah umum untuk pelajaran selain pelajaran agama, jika di Sekolah Dasar biasanya pelajaran agama hanya ada satu yaitu Pendidikan Agama Islam(bagi muslim), maka di Madrasah Ibtidatiah Pelajaran tersebut punya porsi yang lebih banyak dengan nama dan waktu pelajar yang lebih banyak pula,  nama pelajaran tersebut adalah Aqidah bersatu dengan pelajaran Akhlak atau di yang biasa di sebut Aqidah Akhlaq, kemudian ada Al-Qur’an yang digabung dengan Al-Hadits yang di sebut dengan pelajaran Al qur’an Hadits, selain itu juga ada pelajaran Fiqih,Sejarah Islam(walau terfokus pada kebudayaan) atau yang lebih lazim disebut SKI (Sejarah Kebudayaan Islam) dan yang terakhir adalah yang termasuk dasar dari pelajaran agama yaitu bahasa Arab. Walau dua pelajaran terakhir – SKI dan bahasa Arab- baru mulai dipelajari pada kelas IV.

Keinginan saya untuk memiliki yayasan yang bergerak bidang pendidikan semakin lama semakin berubah –bertambah- seiring dengan perjalanan di organisasi PII (pelajar Islam Indonesia). Banyak training  dan latihan juga berbagai kegiatan ditambah obrolan berupa diskusi kecil, hal itu dinatara penyebab perubahan  yang pada saya.

Perubahan keinginan saya setelah itu-duduk di dunia lembaga pendidikan formal dan bergabung dalam organisasi pelajar islam indonesia- adalah bagaimana membuat sebuah lembaga pendidikan dengan metode yang berbeda  dengan yang ada selama ini saya ketahui dan saya rasakan.

Saya ingin membuat yang berbeda, lebih ideal, lebih baik  yang akan di terapkan berdasarkan pengalaman yang di dapat dari pendidikan formal atau yang lebih berharga lagi pengalaman sekolah yang tak akan pernah lulus yaitu pendidikan dalam kehidupan.
     
Lembaga pendidikan yang ingin saya wujudkan adalah sebuah sekolah yang di dalamnya memiliki beberapa ruangan atau kalau belum ada juga cukup satu ruangan. Ruangan yang dibutuhkan harus sesuai dan  difungsikan sesuai dengan peruntukannya, diantara ruang yang dibutuhkan antara lain kantor atau kesekretariatan, ruangan ini sebagai pusat adminitrasi agat tercipta keteraturan dan ketertiban dalam bidang- bidang yang berhubungan dengan  program kerja para pekerja sekolah – kepala sekolah, bidang kurikulum, kesiswaan, keuangan,hubungan masyarakat, tata usaha, bidang sarana serta prasarana, ketenaga kerjaan sampai pada perencananan dewan guru.

Ruang yang kedua yang dibutuhkan satu yang sangat vital dan nadinya sebuah pendidikan yaitu perpustakaan,lembaga pendidikan baik formal maupun nonformal hendaklah mewajibkan dirinya untuk memiliki gudang pengetahuan yang dapat dimanfaatkan oleh semua civitas lingkungan dalam, terlebih lagi mampu menjangkau/menarik perhatian pihak luar, masyarakat untuk ikut belajar bersama dalam perpustakaan sekolah hal yang demikian akan memberikan nilai tambah  kelembaga, atau masyarakat sekolah – kepala sekolah, dewan guru, murid, dan pekerja lain disekolah—baik secara langsung maupun manfaat tidak langsung (salah satu cara promosi). Dari perpustakaan itulah masyarakat sekolah akan berlomba-lomba untuk mencari dari bacaan tentang sesuatu-tugas dari pembimbing, atau sekedar pengayaan pribadi—karena buku adalah jendela dunia dan perpustakaan adalah gudang pengetahuan tentunya.

Tempat  berikutnya yang juga penting untuk membantu peningkatan kualitas kemampuan , pengetahuan bagi pembimbing dan peserta secara khusus dan umumnya bagi masyarakat adalah aula, tempat ini berfungsi pusat kegiatan, latihan dan uji dan unjuk kemampuan dalam berbagai bidang, hal ini sangat penting untuk menempa, mengasah, membiasakan,dan menonjolkan kemampuan yang dimiliki setiap individu murid yang berbeda.

Dan tempat yang setidaknya harus dimiliki oleh lembaga pendidikan adalah laboratorium baik lab kelas atau lab alam terbuka, lab kelas adalah ruang lab yang didalamnya sudah disiapkan fasilitas dan peralatan untuk melakukan obsevasi tempat ini merupakan penunjang dasar keberhasilan dari proses yang dilaksanakan/ kerjakan, dan jangan dianggap remah perlunya lab lapangan luar kelas, tempat ini di sediakan atau setidaknya sekolah memberikan fasilitas agar peserta dapat memanfaatkan alam, lingkungan dan masyarakat sebagai tempat ,alat dan bahan observasi.

Adapun ruamg kelas yang selama ini menjadi kendala di sebagian banyak sekolah baru atau sekolah lama yang jumlah siswanya melebihi / tak tertampung dalam ruangan sehingga harus menggunakan dua shif (kelas pagi dan kelas siang), dan selama ini penggunaan dua shif ini sangat tidak efektif. Coba perhatikan dari waktu yang diguanakan/yang tersedia untuk kelas pagi belajar  07; 15-12;15 sementara untuk siang dimulai dari jam 12;30 – 17 ;15 jadi tidak sama antara waktu pagi dan siang(selisih 15 menit) belun jika energi yang digunakan, energi yang digunakan pada sshif dua adalah energi sisa dari energi dari shif satu, karena biasanya guru yang mengajar pada shif dua adalah sama atau sebelumnya bertugas di shif dua dan hal sangat memungkinkan akan mengganggu proses pembelajaran terlebih di jam awal pelajaran biasanya digunakan oleh guru untuk beristiharat/melepas lelah setelah menguras energi di shif pagi. Selain hal yang diatas (waktu dan energi) tempat yang digunakan secara bersama dengan kelas yang berbeda akan menimbulkan hal yang kurang positif diantaranya saling mengandalkan / membebankan kepihak lain(yang pagi ke siang dan sebaliknya) dalam menjaga dan merawat ruangan dan sebaliknya jika terjadi kerusakan akan saling menyalahkan lempar tanggungjawab. Dan hal tersebut dapat dihindari disekolah yang ingin bangun, karena dalam lingkungan pendidikan ruang kelas bukan sesuatu yang harus ada, atau lebih jelas ruang kelas adalah ruang atau tempat yang digunakan dalam proses belajar, dengan demikian kelas tidak mesti atau bukan keharusan berbentuk ruangan yang disekat, kelas/ruang belajar bagi kita adalah seprti yang telah dijabarkan diawal yaitu tempat untuk proses belajar, dan itu bisa dilaksanakan dirumah, sawah, kebun, pinggir sungai (disungainya),dan atau dimanapun, yang penting tidak menggangu dan tidak terganggu.

Proses Kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan dilembaga ini mungkin  berbeda dengan lembaga pendidikan ditempat lain, sepengetahuan  yang saya rasakan selama belajar dan mengajar biasanya biasanya para peserta didik(murid )  masuk kelas sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan dan seorang guru akan masuk memberikan keterangan, penjelasan dan tugas yang kesemuanya harus sesuai dengan ketentuan kurikulum(baik murni dari dinas atau modifikasi oleh sekolah tersebut).  

Proses pembelajaran yang akan diterapkan dilembaga ini adalah:

Pertama para dewan guru harus membuat pokok bahasan yang harus / akan di pelajari oleh peserta didik/murid dalam hal ini materi yang akan diujikan dengan keterangan waktu belajar serta target yang harus dicapai.  Contoh  pada bidang stadi matematika peserta didik harus mampu perkalian ratusan dalam waktu 3 bulan dan pembagian ratusan dalam tempo satu semester, atau yang lebih dikenal dan biasa disebut mulai dari program jangka panjang (tahun) progran semester, rencan pembelajaran, selain  rencana itu di buat secara matang juga di aflikasikan dalam proses pembelajaran.

Jika bahan pokok bahasan telah dibuat dibagikan pada setiap peserta,  sekarang tinggal terserah peserta menyelesaikannya di bulan pertama , kedua atau ketiga karena guru akan mengujinya di bulan ketiga, sedangkan untuk pembagian juga demikian apakah akan diselesaikan pada bulan pertama keempat atau bahkan bulan keenam yang jelas itu akan diujikan pada akhir semester. Para peserta didik di beri kebebasan untuk belajar dimana saja yang jelas pihak sekolah menyiapkan guru guru (matematika)nya sebagai pembimbing bila ada yang bertanya, konsultasi dalam menghadapi pelajaran (matematika) tersebut dan selain itu seorang guru bertugas sebagai penguji lokal dilembaga pendidikan tersebut pada bidang stadi (matematika). Dengan cara seperti ini para peserta akan memilih bidang prioritas dan penyesuaian dengan kemampuan yang dimilikinya.
*ini ditulis pada juni 2008 hasil dari sebuah perenungan     akibah kegundahan hati melihat fenomena (lembaga)pendidikan saat itu, yang mungkin saat in (april 2012) keadaan sudah berubah dalam beberapa hal.





















Tidak ada komentar:

Posting Komentar