Rabu, 29 Mei 2013

pelajar aktivis


Dalam  suarapublik harian republika edisi 11 mei 2013 " murid SMA perlu program layanan masyarakat" yang inti usulan tersebut adalah untuk mencegah prilaku buruk siswa, maka sekolah harus  mengadakan program magang untuk pengabdian masyarakat di lembaga yang langsung bersentuhan dengan masyarakat , seperti : Rumah sakit, yayasan yatim, panti asuhan, panti jompo dan sejenisnya.dengan magang di tempat seperti itu diharapkan siswa dapat memiliki daya empati dan simpatiserta kepedulian terhadap sesama.

membaca usulan tersebut saya teringat dialog pelajar tahun 2000, ketika masih di pengurus Daerah Pelajar Islam Indonesia, sebagai Ketua PD PII yang di undang oleh HIPASI (himpunan Pelajar Bekasi) yang saat itu di deklarasikan .

dalam dialog tersebut saya mengusulkan bahwa untuk mengurangi bahkan kebiasaan aksi tawuran dikalangan pelajar adalah pihak pemerintak harus memberi intruksi  setiap sekolah untuk mewajibkan siswanya ikut dalam kegiatan dan menjadi aktivis salah satu organisasi pelajar di sekoalah atau di organisasi pelajar di luar sekolah.

aksi buruk , tau perilaku yang tak terpuji dari para pelajar adalah sebagai pelarian dan menunjukan eksitensi diri nya yang ingin di akui oleh pihak dalam (rekan sesama satu sekolah ) atau pihak luar (rekan di sekolah yang berbeda juga masyarakat umum)

jika para pelajar ada dalam organisasi- menjadi anggota bahkan pengurus- maka akan ada tugas dan kewajiban yang harus dipenuhi, sebelum masuk mereka akan di orentasi dan mengikuti pelatihan, di PII misalnya untuk menjadi anggota atau kader sebelumnya mengikuti prabatra( sebuah acara pengenalan PII yang  diadakan sebelum mengikuti BATRA,  banyak macam dan jenis dari prabatra  ).
selesai batra  baru seorang bisa dikatakan angota atau yang biasa disebut dengan kader PII,

pelajar yang jadi aktivis akan dituntut untuk merealisasikan program dalam organisasinya sebagai jalan untuk menunjukan diri, dengan demikian mereaka akan sibuk dengan hal-hal positif, mulai dari merencanakan program, menyusun kepanitian, mencari dana sampai pada tahap evalusi.

kesibukan dalah hal tersebut tentu akan berbuah positif setelah belajar secara akademikmereka belajar kepemimpinan, bergaul , berkomunikasi, berdiskusi, memberi ide/gagasan, menghargai pendapat, juga memberi dan menerima kritikan.

secara fisik aktivis akan dituntut lebih budar karena memilikijadwal yang padat mulai dari belajar diruang kelas sampai mondar-mandir urusan kegiatan organisasi.

jika saya boeleh ungkapkan prestasi  aktivis  lebih baik dari yang hanya toh belajar dikelas/sekolah, aktivis memiliki kemampuan dan wawasan yang lebih baik, hampir disetiapsekolah yang menjadi terbaik dan teladan adalah aktivis- ketiaka angkatan saya di PDPII kab Bekasi, juara umum dan kelas  di raih oleh kader PII. aktivis selain peka terhadap sebuah keadaan juga kemampuan selalu di olah dan diasah secara langsung dengan ikut pelatihan atau secara tidak langsung seperti dalam rapat dan merencaanakan program

berbekal dan berdasrakan pengalaman maka organisasi pelajarbagi siswa adalah menjadi suatu yang harus bahkan wajib, karena penting sifatnya.bial dibanding dengan magang yang waktunya relatif singkat hanya 2-8 pekan. dan rawan penyelewengan, dan kebohongan. karena pihak sekolah hanya meminta laporan dari tempat magang tanpa melakukan pengawasan lanngsung, dan hal ini menjadi celah sebagian siswa untuk tidak magang tetapi mendapat sertifikat atau piagam dari tempat magang dengan membayar kepada oknum yang membuat laporan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar