Rabu, 09 Mei 2012

cari uang sekolah / kerja


Cari uang untuk bekerja

Catatan ini ditulis pada juni 2008 sebagai sutu ungkapan keheranan dari banyak pertanyaan yang berhubungan dengan dunia pendidikan, industri, tenaga kerja dan strata sosial orang orang yang berpendidikan dan atau para karyawan, petani,  buruh , pedagang dan pekerjaan lain yang tak menggunakan kata karyawan

S
aya berfikir untuk apa sekolah (tinggi-tinggi) jika yang dikejar sebatas mencari pekerjaan /uang, coba perhatikan beberapa kasus orang yang mencari kerja. Lulusan yang ditempat kerja yang sama yang satu diterima yang lain tidak(karena test nya gagal) atau pencari kerja dari lulusan yang berbeda satu lulusan SLTP yang lain lulusan SLTA ternyata yang diterima adalah  lulusan SLTP dan ada yang lebih menarik yang satu lulusan lolos (SD pun tak selesai/tamat) tapi bisa mengalahkan yang lulus sekolah dalam mencari pekerjaan
.
Semua kasus di atas tadi bahkan lebih dari itu hanya bisa saya dengar dalam obrolan rahasia pinggir jalan. Kalau harus mencari bukti juga ada, tapi entah hari ini orang yang bersangkutan (terlibat) korban atau justru mendapat keuntungan dari itu mau mengakui atau sebaliknya. Yang jelas hal tersebut sekarang bukan rahasia pribadi tapi jadi rahasia umum(di rahasiakan tapi hampir semua orang mengetahuinya) dan terjadi sejak 15 tahun yang lalu.
Yang terjadi di daerah itu adalah kalau anak lulus sekolah yang dicari hanya pekerjaan dan defenisi / pengertian pekerjaan merurut mereka adalah jadi karyawan di Perseroan Terbatas (yang biasa mereka sebut karyawan PT), jadi kalau hanya bekerja jadi petani meneruskan atau memiliki sawah sendiri itu namanya masih pengangguran, bukan juga bekerja jadi orang berusaha bidang perdagangan atau jual beli (pedagang,makelar atau sejenisnya ) berarti mereka belum kerja.

Sementara untuk dapat pekerjaan di PT harus siapkan banyak uang; uang sabun, uang rokok, uang bensin, dam macam macam nama lain yang indah seperti pelangi. Bukan kah lebih hemat jika potong jalur kompas , yang dimaksud adalah setelah lulus SD atau SLTP (karena wajib belajarnya 9 tahun ) tidak usah melanjutkan ke jenjang SLTA, memakan waktu lama dan biaya yang tak sedikit. Jika kita potong kompas berari langsung saja cari uang – jadi kuli atau apa saja – tapi bukan karyawan PT. Selama kurang lebih 1- 2 tahun, jika uang sudah terkumpul tinggal “beli” ijazah SLTA atau mengikuti ujian persamaan paket C yang setara Dengan SLTA --pakek B setara dengan SLTP dan paket A setara dengan SD ( hapir tidak ada di daerah saya yang ikut paket A- karena walau tak lulus SD tak akan mau lagi untuk menanjutkan sekolah.--hasilnya kan sama bisa digunakan melawar kerja di PT dan pasti diterima karena kita sudah siapkan uang pelangi selama 2 tahun hanya di kurangi untuk Ujian Persamaan, tentu itu lebih cepat, lebih hemat walau lebih pinter.

Jika kita hitung setelah SLTP dan melanjutkan ke SLTA, 3 tahun waktu  yang dibutuhkan belum  lagi biaya yang di keluarkan selama itu, waktu saya sekolah tingkat SLTA setiap hari  Rp 2000, kurang nya RP 1000, hanya untuk bayar ongkos  saja, jadi anggap saja sehari butuh RP 3000, jika dalam setahun jumlah hari 365 hari di kurang hari libur nasional dan sejenisnya selama kurang lebih 100 hari maka waktu efektif belajar 265 hari di kali Rp 3000 di kali 3 tahun berarti untuk ongkos saja di butuhkan Rp 795.000 , jika setiap hari jajan 1000 saja maka Rp 265.000 , dan jika iuran bulanan Rp 15.000 perbulan maka biaya yang di keluarkan adalah  Rp 540.000, dan biaya Caturwulan , jika satu kali saja Rp 20.000 maka biayanya adalah 20.000 x 8 = 160.000 dan yang terakhir Ujian Nasional , dan yang awal belum tertera adalah biaya gedung , pendaftaran , seragam dan lain-lain.


Di tahun 1996 - 1999 ( ketika saya sekolah Tingkat SLTA)  biaya yang di keluarkan adalah:
Pendaftaran                                      ???
Seragam                                              Rp 150.000
Bangunan                                           ???
Ongkos                                                Rp 795.000*
Jajan                                                     Rp 265.000*
Iuran bulanan                                   Rp 540.000
Caturwulan                                        Rp 160.000
Ujian Nasional                                  Rp 65.000*
Pengeluaran yang lupa                                 ???
*Ini hitungan yang sangat irit , bahkan kurang 

Itu biaya yang di keluarka selama sekolah belum termasuk tektek bengek embel embel  yang lain, di tambah lagi harus menyiapkan uang pelangi  kalau dah mau cari kerja yang nominalnya tentu lebih besar dari satu-dua tahun sebelumnya.

Apakah hal tersebut sebagai salah satu jalan keluar atau justru sebaliknya hal itu merupakan bagian dari deretan masalah yang harus di selesaikan yang selama ini terjadi di lingkungan Pendidikan dan Perindustian  dan tenaga kerja.

Semoga kita tetap menjadi bagian yang bukan menjadi masalah tersebut dan sebaliknya dapat memberi kontribusi penyelesaian nyata dalam hal-hal itu,
Hanya Allah yang Tahu Segalanya

1 komentar: