Cari uang
untuk bekerja
Catatan ini ditulis pada juni 2008 sebagai sutu ungkapan keheranan dari banyak pertanyaan yang berhubungan dengan dunia pendidikan, industri, tenaga kerja dan strata sosial orang orang yang berpendidikan dan atau para karyawan, petani, buruh , pedagang dan pekerjaan lain yang tak menggunakan kata karyawan
S
|
aya berfikir untuk
apa sekolah (tinggi-tinggi) jika yang dikejar sebatas mencari pekerjaan /uang,
coba perhatikan beberapa kasus orang yang mencari kerja. Lulusan yang ditempat
kerja yang sama yang satu diterima yang lain tidak(karena test nya gagal) atau
pencari kerja dari lulusan yang berbeda satu lulusan SLTP yang lain lulusan SLTA
ternyata yang diterima adalah lulusan
SLTP dan ada yang lebih menarik yang satu lulusan lolos (SD pun tak selesai/tamat) tapi bisa mengalahkan yang lulus sekolah
dalam mencari pekerjaan
.
Semua kasus di atas
tadi bahkan lebih dari itu hanya bisa saya dengar dalam obrolan rahasia pinggir
jalan. Kalau harus mencari bukti juga ada, tapi entah hari ini orang yang
bersangkutan (terlibat) korban atau justru mendapat keuntungan dari itu mau
mengakui atau sebaliknya. Yang jelas hal tersebut sekarang bukan rahasia
pribadi tapi jadi rahasia umum(di rahasiakan tapi hampir semua orang
mengetahuinya) dan terjadi sejak 15 tahun yang lalu.
Yang terjadi di
daerah itu adalah kalau anak lulus sekolah yang dicari hanya pekerjaan dan
defenisi / pengertian pekerjaan merurut mereka adalah jadi karyawan di
Perseroan Terbatas (yang biasa mereka sebut karyawan PT), jadi kalau hanya
bekerja jadi petani meneruskan atau memiliki sawah sendiri itu namanya masih
pengangguran, bukan juga bekerja jadi orang berusaha bidang perdagangan atau
jual beli (pedagang,makelar atau sejenisnya ) berarti mereka belum kerja.
Sementara untuk
dapat pekerjaan di PT harus siapkan banyak uang; uang sabun, uang rokok, uang
bensin, dam macam macam nama lain yang indah seperti pelangi. Bukan kah lebih
hemat jika potong jalur kompas , yang dimaksud adalah setelah lulus SD atau
SLTP (karena wajib belajarnya 9 tahun ) tidak usah melanjutkan ke jenjang SLTA,
memakan waktu lama dan biaya yang tak sedikit. Jika kita potong kompas berari
langsung saja cari uang – jadi kuli atau apa saja – tapi bukan karyawan PT.
Selama kurang lebih 1- 2 tahun, jika uang sudah terkumpul tinggal “beli” ijazah SLTA atau mengikuti ujian
persamaan paket C yang setara Dengan SLTA --pakek B setara dengan SLTP dan
paket A setara dengan SD ( hapir tidak ada di daerah saya yang ikut paket A-
karena walau tak lulus SD tak akan mau lagi untuk menanjutkan sekolah.--hasilnya
kan sama bisa digunakan melawar kerja di PT dan pasti diterima karena kita
sudah siapkan uang pelangi selama 2 tahun hanya di kurangi untuk Ujian
Persamaan, tentu itu lebih cepat, lebih hemat walau lebih pinter.
Jika kita hitung
setelah SLTP dan melanjutkan ke SLTA, 3 tahun waktu yang dibutuhkan belum lagi biaya yang di keluarkan selama itu,
waktu saya sekolah tingkat SLTA setiap hari
Rp 2000, kurang nya RP 1000, hanya untuk bayar ongkos saja, jadi anggap saja sehari butuh RP 3000,
jika dalam setahun jumlah hari 365 hari di kurang hari libur nasional dan
sejenisnya selama kurang lebih 100 hari maka waktu efektif belajar 265 hari di
kali Rp 3000 di kali 3 tahun berarti untuk ongkos saja di butuhkan Rp 795.000 ,
jika setiap hari jajan 1000 saja maka Rp 265.000 , dan jika iuran bulanan Rp
15.000 perbulan maka biaya yang di keluarkan adalah Rp 540.000, dan biaya Caturwulan , jika satu
kali saja Rp 20.000 maka biayanya adalah 20.000 x 8 = 160.000 dan yang terakhir
Ujian Nasional , dan yang awal belum tertera adalah biaya gedung , pendaftaran ,
seragam dan lain-lain.
Di tahun 1996 -
1999 ( ketika saya sekolah Tingkat SLTA) biaya yang di keluarkan adalah:
Pendaftaran ???
Seragam Rp 150.000
Bangunan ???
Ongkos Rp 795.000*
Jajan Rp 265.000*
Iuran bulanan Rp 540.000
Caturwulan Rp 160.000
Ujian Nasional Rp 65.000*
Pengeluaran yang lupa ???
*Ini hitungan yang
sangat irit , bahkan kurang
Itu biaya yang di
keluarka selama sekolah belum termasuk tektek
bengek embel embel yang lain, di
tambah lagi harus menyiapkan uang pelangi
kalau dah mau cari kerja yang
nominalnya tentu lebih besar dari satu-dua tahun sebelumnya.
Apakah hal tersebut
sebagai salah satu jalan keluar atau justru sebaliknya hal itu merupakan bagian
dari deretan masalah yang harus di selesaikan yang selama ini terjadi di
lingkungan Pendidikan dan Perindustian dan tenaga kerja.
Semoga kita tetap
menjadi bagian yang bukan menjadi masalah tersebut dan sebaliknya dapat memberi
kontribusi penyelesaian nyata dalam hal-hal itu,
Hanya Allah yang Tahu Segalanya
untuk kesekian kalinya
BalasHapus